POTENSI KEANEKARAGAMAN SATWALIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI LABORATORIUM LAPANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA HUTAN PENDIDIKAN UNHAS
![]()
Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber
Daya Hutan Medan, Maret 2021
POTENSI
KEANEKARAGAMAN SATWALIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI LABORATORIUM LAPANGAN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA HUTAN PENDIDIKAN UNHAS
Dosen
Penanggung Jawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun
Oleh :
MHD
RAIHAN FERNANDO
191201012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi
Sumber Daya Hutan ini dengan baik
dan tepat waktu.
Paper
ini berjudul “Potensi
Keanekaragaman Satwaliar untuk Pengembangan Ekowisata di Laboratorium Lapangan
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas”
Tujuan dari penulisan Paper ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumber
Daya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera
Utara.
Dalam
menulis Paper ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si. sebagai dosen penanggungjawab yang telah membantu dan membimbing
penulis dalam menyelesaikan Paper ini.
Meski
penulis sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan Paper ini agar
mendapat yang terbaik, namun penulis sadar bahwa Paper ini masih sangat jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan Paper ini.
Medan, Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................................ 2
BAB
II ISI
2.1 Potensi dari satwa liar yang ada
di lapangan konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata hutan pendidikan unhas ............................................................................................. 3
2.2 Hewan yang memiliki
indeks tertinggi ............................................................. 6
2.3 Hewan yang memiliki indeks terendah ............................................................. 6
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 7
3.2 Saran.................................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDHULUAN
Latar
Belakang
Hutan adalah suatu lapangan tumbuhnya pohon-pohon
yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah
sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya
ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi yaitu lahan, vegetasi bersama semua komponen
hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada
akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang
mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari
berbagai alternatif. Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan (Alam dkk.,
2019).
Hutan sebagai sumberdaya
alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia,baik manfaat nyang dirasakan secara langsung, maupun yang dirasakan secara tidak langsung. Manfaat
hutan tersebut dapat diperoleh apabila hutan
terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Namun berbagai manfaat ini dapat dirasakan apabila hutan di
kelola dengan benar.Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan hutan masih
dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi sumberdaya
hutan yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masihbanyak pihak yang
belum memahami nilai dari berbagai manfaat sumberdaya hutan. (Mutmainnah dan
Tahnur, 2018).
Keragaman dan sebaran satwa liar serta struktur
pemanfaatannya di Makassar masih perlu
diteliti lebih banyak karena belum ada kajian yang komprehensif bisa menjawab
semua pertanyaan di atas maka data-data dasar dalam lingkup mikro merupakan
salah satu cara untuk mengidentifikasi dan memperkaya data mengenai satwa
liar. Jumlah satwa liar pada habitatnya
di alam bebas (hutan), merupakan salah satu bentuk kekayaan dan keanekaragaman
(biodiversity) sumberdaya alam hayati, karena itu perlu dilakukan perlindungan.
Untuk dapat melakukan sesuatu untuk perlindungan serta kemanan perlu diketahui
jumlah dan sebarannya (Budiman dkk., 2019)
Sumberdaya hutan sendiri
sebagaimana yang tercermin pada UU no 41 tahun 1999 mengenai kehutanan; merujuk
pasal 68, sesuai peraturan perundangan yang berlaku, masyarakat diijinkan
memanfaatkan sumberdaya hutan dan hasil-hasilnya. Identifikasi sumberdaya
hutan, pemanfaatannya oleh masyarakat serta nilai ekonminya menjadi salah satu
aspek penting yang dapat menunjang dalam penyusunan program maupun kebijakan dalam
pengelolaan hutan. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu umumnya untuk kebutuhan
atau kepentingan sendiri di desa serta untuk bahan kerajinan masyarakat. sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan
ditingkatkan dalam jangka panjang (Hastari dan Reri, 2018).
Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang memperhatikan
pelestarian lingkungan, pendidikan, kepentingan ekonomi dan sosial budaya
masyarakat. seperti, pemanfaatan satwa
liar. Pengembangan pemanfaatan
satwa liar sebagai salah satu cara melestarikan satwa liar. . Selain itu, salah
satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan
mengembangkan pariwisata dengan konsep ekowisata. Aspek pendukung ekowisata
yang sangat penting adalah deskripsi mengenai area wisata yang dapat disajikan
dalam bentuk peta. Keberadaan peta jalur interpretasi ekowisata yang terdapat
di suatu wilayah akan memudahkan pengunjung untuk mengakses tempat wisata (Prasetyo
dkk., 2019)
1.1 Rumusan
Masalah
1. Apa saja potensi dan jenis dari satwa
liar yang ada di Lapangan Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas?
2. Jenis hewan apa yang memiliki indeks satwa liar yang
paling tinggi
3. Jenis hewan apa yang memiliki indeks satwa liar yang
paling rendah
1.2 Tujuan
1. Untuk
mengetahui potensi dari satwa liat yang ada di Lapangan Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas
2. Untuk mengetahui jenis dengan indeks jenis hewan yang
paling tinggi
3. Untuk mengetahui jenis dengan indeks hewan yang paling
rendah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Potensi
dari satwa liat yang ada di lapangan konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata
hutan pendidikan unhas.
Tidak bisa dipungkiri
bahwa saat ini kegiatan ekowisata telah menjadi salah sa-
tu sasaran pembangunan untuk
memanfaatkan sumberdaya hutan yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat di sekitar hutan, serta sekaligus meningkatkan peranan
masyarakat dalam melakukan konservasi sumberdaya hutan. Kegiatan ekowisata ini
tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan
pendapatan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Ada
beberapa
jenis satwa liar potensial yang ditemukan selama penelitian di Laboratorium
Lapangan KSDH dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas yaitu:
A.Monyet Hitam Sulawesi
Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) adalah merupakan satwa
endemik yang hanya mendiami Sulawesi Selatan bagian selatan satwa ini terdiri
dari tujuh kelompok, dimana dua kelompok diantaranya berada di areal
Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata. kedua kelompok monyet tersebut, diketahui
bahwa pengunjung akan cukup mudah bertemu dengan kelompok monyet ini, karena
kedua kelompok monyet tersebut mempunyai jalur pergerakan yang dilalui oleh
jalur jalan setapak yang akan dikembangkan sebagai jalur kegiatan ekowisata.
B. Tarsius (Tarsiur tersier)
Tarsius adalah jenis
monyet kecil memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit
kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk
yang lebar yang merupakan salah satu satwa liar endemik Sulawesi yang unik dan
dilindungi.
C. Kuskus (Phalangista ursina)
Satwa ini merupakan hewan yang
mempunyai gerakan lambat, sehingga bisa diamati tingkah lakunya dalam waktu
yang lama. spesies ini ditemukan oleh masyarakat dan dibunuh kemudia dijadikan
makanan anjing maka dari itu Pemerinah telah menjelaskan kepada masyarakt
status endemik hewan ini dan mengapa satwa kuskus
dilindungi oleh pemerintah Republik Indonesia karena merupakan spesies yang
dilindungi.
D. Babi
hutan (Sus scrofa Linnaeus)
Hampir semua babi hutan
yang ditemukan selama penelitian ini berlangsung, perjumpaannnya pada sungai
karena mereka sedang mencari air akibat musim kering yang mencapai puncaknya
pada bulan September. Areal jelajah babi hutan di Laboratorium Lapangan KSDH
dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas mencapai 55,67 ha dan core area adalah
11,6 ha. Babi hutan sangat menarik sebagai objek ekowisata,
karena umumnya mereka melakukan makan secara berkelompok.
E. Rusa
adalah hewan mamalia pemamah biak (ruminan) yang termasuk famili Cervidae. Salah
satu ciri khas rusa adalah adanya antler (tanduk rusa), dan bukan tanduk, yang merupakan pertumbuhan tulang yang berkembang setiap tahun
(biasanya pada musim panas Jejak rusa ditemukan bercampur dengan jejak babi
hutan di sekitar sumber air sungai yang berada dekat dengan stasiun penelitian.
F.
Musang
Musang adalah merupakan satwa yang berstatus dilindungi, dan juga
merupakan satwa nocturnal, sehingga pengamatan harus dilakukan pada malam hari.
lokasi penemuan musang ini terdapat di stasiun penelitian
Laborataroium KSDH dan ekowisata berada di dalam atau merupakan bagian dari
areal jelajah satwa ini.
G.
Burung
Burung adalah merupakan jenis satwa liar yang sangat menarik untuk
diamati karena mempunyai warna bulu, tingkah laku dan bentuk morphologi yang
unik. Selain itu, burung dapat ditemukan dari tempat terbuka sampai ke hutan
lebat. Dengan demikian, variasi tipe penutupan lahan
pada suatu ekosistem, akan memberi pula variasi jenis burung yang dapat
dijadikan sebagai objek ekowisata. Jenis-jenis tersebut antara lain, Kadalan Sulawesi, Burung Madu, Cekakak
Sungai, Kacamata Gunung, Elang Sulawesi, Srigunting, Bubut Alang-Alang, Bubut
sulawesi, Blibong pendeta, Cabai Panggul Kuning, Gagak Hutan, Ayam Hutan, serta
beberapa jenis burung lainnya.
H.
Kupu-Kupu
Satwaliar kupu-kupu
adalah merupakan salah jenis satwaliar serangga yang sangat menarik untuk
dikembangkan sebagai objek ekowisata. Hal ini disebabkan karena bentuk dan
warnanya yang menarik, serta peranan ekologinya dalam ekosistem. Jenis
kupu-kupu yang ditemukan di Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata,
diperlihatkan pada. Jenis kupu-kupu yang paling banyak dijumpai di Laboratorium
Lapangan KSDH dan Ekowisata adalah Cyrentis
acilia, Terias tilaha, Kupu-Kupu Sp.16, Eurema westwoodi, Graphium milon, dan
Euploea algaea.
I.Ular
Sebanyak sembilan jenis
bangsa ular ditemukan di Hutan Pendidikan Unhas Dari jumlah tersebut, terdapat
empat spesies yang merupakan satwa ular endemik Sulawesi yaitu: Elaphe jansenii, Calamaria brogersmae,
Cylindrophis melanotus dan Boiga dendrepila. Selama penelitian ini
berlangsung ditemukam tiga jenis ular di Laboratorium Lapangan KSDH dan
Ekowisata, yakni Boiga dendrepila, Elaphe
jansenii, dan Dendrelapis pictus-pictus.
J. Soa-Soa
Soa-Soa (Hydrosaurus amboinensis) merupakan salah
satu jenis kadal semi aquatik yang tergolong unik, karena memiliki jengger pada
bagian atas ekornya. Kadal dari suku agamidae pemangsa binatang kecil dan
tumbuhan ini, merupakan salah satu kadal terbesar di dunia dengan panjang dapat
mencapai lebih dari 1 m, di mana dua pertiganya merupakan ekor Bentuknya yang
unik menyebabkan soa-soa diburu untuk diperdagangkan sebagai binatang
peliharaan, sehingga secara ekonomi jenis ini memiliki prospek yang cukup baik
di masa yang akan datang. Jenis pakan yang termasuk dalam
daerah jelajahnya adalah Paku-pakuan (Christella
parasitica), Duajeng (Ficus variegate),
Lobe-lobe (Flacortia rukam),
Katammung (Syzygium acuminatissimum),
Maranne (Aporosa frutenscens), Bira
Putih (Caladium sp), dan Paliase (Klenhovia hospitalia). Maranne adalah
jenis pakan kesukaan soa-soa, dan jenis ini banyak ditemukan di pinggir Sungai
Mahaka, dimana soa-soa ini ditemukan.
K. Kadal
Sebanyak sembilan
spesies bangsa kadal telah tercatat pernah ditemukan di Hutan Pendidikan Unhas.
Jenis-jenis
kadal yang ditemukan pada Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowsiata selama
penelitian ini berlangsung adalah Draco
walkery (cecak terbang), Cyrtodactylus
jellesmae (tokek hutan), Hemydactylus
frenatus (cecak hutan), Eutropis
multifasciata, Lamprolepis smaragdinum (kadal hijau).
L. Kodok
di
Hutan Pendidikan Unhas, dan menemukan delapan jenis kodok. Dari delapan jenis
yang ditemukan, 5 spesies ditemukan dalam jalur-jalur terrestrial, yaitu
Fejervarya cancrivora, Polypedathes leucomystax, Rana celebensis, Bufo
celebensis dan Oreophryne sp. hanya ada tiga jenis kodok yang
ditemukan di Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata, yakni Rana celebensis, Limnonectes sp., dan
Oreophryne sp.
2.2 Hewan yang memiliki indeks tertinggi
sedangkan satwa liar burung
dan kupu-kupu, masing-masing termasuk kategori indeks sedang dan tinggi. Indeks
kekayan burung yaitu 4,74, indeks kemerataan 0,91, indeks keanekaragaman 2,87. Indeks
kekayaan pada kupu-kupu yaitu 5,48, indeks kemeratan 0,90, indeks
keanekaragaman 3,30.
2.3 Hewan yang memiliki indeks terendah
indeks
keanekaragaman satwa liar mamalia dan reptil termasuk dalam kategori rendah,
reptil dikatagoringan siang dan malam indeks kekayaan pada reptil yang hidup di
siang hari yaitu 1,66,indeks kemerataan 0,80, indeks keanekaragaman 1,29 pada
reptil yang hidup di malam hari indeks kekayaan 2,03,indeks kemerataan 0,80
indeks keanekaragaman 1,57.pada mamalian indeks kekayaan 0,70,indeks kemerataan
0,88 dan indeks keanekargaman 0,97
BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan
1.
Jenis satwa liar yang terdapat pada lapangan
konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata hutan pendidikan unhas yaitu Monyet hitam sulawesi, Tarsius, kuskus, babi
hutan, rusa, musang, burung, kupu-kupu, ular, soa-soa, kadal, kodok.
2.
Satwa
liar burung dan kupu-kupu, masing-masing termasuk kategori indeks sedang dan
tinggi.
3.
Indeks
keanekaragaman satwa liar mamalia dan reptil termasuk dalam kategori rendah,
4.
Jenis kodok yang
ditemukan di Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata, yakni Rana celebensis, Limnonectes sp., dan
Oreophryne sp.
5. Jenis
kadal yang ditemukan pada Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowsiata selama
penelitian ini berlangsung adalah Draco
walkery (cecak terbang), Cyrtodactylus
jellesmae (tokek hutan), Hemydactylus
frenatus (cecak hutan), Eutropis
multifasciata, Lamprolepis smaragdinum (kadal hijau).
Saran
Sebaiknnya penelitian ini dilanjut
lagi karena ada beberapa satwa liar yang belum di temukan lagi dan sebaiknya
dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar agar sama-sama menjaga satwa
liar yang ada sehingga satwa liar tersebut tidak hilang atau habis sehingga
potensi ekowisata di sekitar tersebut berguna bagi masyarakat
DAFTAR
PUSTAKA
Alam, Syamsu dkk. 2019. Ekonomi Sumberdaya Hutan. Universitas
Hasanuddin, Tamalanrea.
Achmad A, Ngakan P, Umar A, Asrianny A. (2013). Potensi Keanekaragaman
Satwaliar Untuk Pengembangan Ekowisata Di Laboratorium Lapangan Konservasi
Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas. Jurnal
Penelitian Kehutanan Wallacea, 2(2), 79-92.
Budiman, Mokhamad K, Yoppie C. 2019 . Struktur Pemanfaatan Keragaman
Hayati Satwa Liar oleh Masyarakat di Kawasan Pesisir Distrik Tomu Kabupaten
Teluk Bintuni Papua Barat. Coastal and
Ocean Journal, 2(2).
Hastari dan Reri. 2018.
Pemanfaatan dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Di KPHL Kapuas-Kahayan. Jurnal Hutan Tropis, 6(2): 13:25.
Mutmainnah H, dan Tahnur.
2018. Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Kota Universitas Hasanuddin Makassar. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 10(2): 239-245.
Prasetyo, Dendy, Bainah Sari Dewi, and Arief Darmawan.2019). DESAIN
JALUR
INTERPRETASI EKOWISATA DI LAMPUNG MANGROVE CENTER DESA MARGASARI
KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (DESIGN OF ECOTOURISM INTERPRETATION PATH OF MANGROVE
FOREST IN LAMPUNG MANGROVE CENTER MARGASARI VILLAGE OF EAST LAMPUNG REGENCY). Sylva Lestari. 7(1): 1-10.

Mantap nak🏳️🌈
BalasHapusHai, bagus sekali hm
BalasHapusWahh kerennnn 🤗🤗
BalasHapusMantap lengkap
BalasHapusMantap sekali kali(~ ̄³ ̄)~
BalasHapusSemangat kawan
BalasHapusKerenn eyy
BalasHapusMantap sekale
BalasHapusMantap sayyy
BalasHapusMantap gan
BalasHapusInformasi yang bagus
BalasHapusGood👍
BalasHapusInformasi yang bermanfaat 👍🏻
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusMantap
BalasHapus🔥🔥🔥
Mantap banget bang
BalasHapus